BADEN POWEL DAN LGBT


LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) sedang marak, di mana-mana dibicarakan. Walaupun banyak yang salah kaprah. Logo Suistanable Development Goals (SDGs) dibilang lambang LGBT. Padahal SDGs adalah tujuan pembangunan berkelanjutan yang merupakan agenda Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Intinya untuk menjadikan dunia lebih baik bagi semua manusia.
Logo SDGs dibilang lambang LGBT hanya karena logonya berwarna-warni mirip warna pelangi, warna yang juga digunakan kelompok aksi LGBT di banyak negara. Sampai-sampai timbul gurauan, jangan lagi ajarkan anak-anak menyanyi lagu “Pelangi” ciptaan AT Mahmud, nanti disangka mendukung LGBT. Jangan pula memotret pelangi, bahkan salah satu desainer terkenal Indonesia yang namanya ada kata “pelangi”, disarankan diganti. Takut nanti disangka pendukung LGBT. Ada-ada saja.
Tetapi ketakutan berlebihan pada LGBT juga tampak di kalangan mereka yang aktif di gerakan kepanduan. Lebih lagi kepada sosok Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden-Powell (B-P) yang lahir pada 22 Februari 1857 dan tahun 2018 akan diperingati sebagai ulang tahunnya ke-161.
Sejak lama, mereka yang tak suka pada B-P dan bahkan kurang menyenangi gerakan kepanduan, sering mencemooh dengan mengatakan bahwa B-P adalah seorang gay (homoseksual). Disebut juga bahwa B-P seperti seorang “predator” karena suka dengan anak laki-laki kecil.
B-P disebut-sebut mempunyai hubungan erat dengan sesama prajurit dari angkatan bersenjata Kerajaan Inggris, Kenneth McLaren, ketika keduanya pertama kali bertemu sewaktu ditugaskan di India pada 1881. Bahkan katanya B-P menamai McLaren sebagai “the boy” karena waktu itu walaupun usia McLaren sudah 20 tahun, wajahnya masih seperti remaja belasan tahun.
Disebutkan juga, B-P sering ke mana-mana selama penugasannya bersama McLaren. Bahkan keduanya terlibat dalam pementasan teater bersama, dan ikut berbagai kegiatan lainnya, seperti berkuda bersama-sama. Apakah hal ini aneh?
Tentu tidak, bisa dibilang biasa saja. Di kelompok mana pun, termasuk di militer, hubungan sahabat karib antara satu dengan anggota lainnya, tidak mustahil tumbuh. Mereka bahkan menjadi seperti keluarga – kakak dan adik – yang saling membantu satu sama lain.
Sementara tentang tudingan bahwa B-P seperti “predator” yang suka anak laki-laki kecil karena membentuk kegiatan kepanduan yang dirintisnya setelah dia pensiun dari tugas militernya, juga terlalu berlebihan.
B-P membentuk gerakan pendidikan kepanduan memang untuk anak-anak dan remaja. Dia melihat pada awal 1900-an kondisi di kota London khususnya, dan di Inggris pada umumnya. Setelah Revolusi Industri, salah satu dampak yang nyata makin banyak anak-anak dan remaja yang berkeliaran sebagai “anak jalanan”. Sebagian dari mereka adalah anak-anak pendatang dari negara lain yang orangtuanya ingin mencari hidup lebih baik di Inggris. Sebagian lagi anak-anak “asli” London sendiri, yang karena kesibukan kerja orangtua, mereka cenderung tidak begitu memperhatikan pengasuhan anak-anaknya.
Di jalanan, anak-anak dan remaja itu tumbuh menjadi manusia-manusia yang mulai menunjukkan “bakat kriminalitas”. Perkelahian, curi-mencuri, sampai mabuk-mabukan, mulai tampak di kalangan sebagian anak-anak di sana. Kenapa ini terjadi?
B-P melihat karena tidak aktivitas positif di luar sekolah bagi mereka. Apalagi bagi anak- anak dan remaja yang putus sekolah, makin tak ada lagi kegiatan positif bagi mereka. Akibatnya mereka menyalurkan energi di jalanan, dengan melakukan berbagai tindak negatif yang menjurus ke arah kriminalitas.
Maka B-P merasa perlu untuk mengupayakan kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja itu. Hal itu timbul, karena dia melihat bukunya Aids to Scouting yang sebenarnya ditulis untuk para calon prajurit di angkatan bersenjata Kerajaan Inggris, ternyata cukup banyak anak-anak dan remaja di London. Bagian-bagian dari buku tentang cara bersembunyi dari kejaran musuh, melakukan pengintaian, dan sejenisnya, disukai anak-anak masa itu yang senang dengan petualangan di alam terbuka.
Dari situlah, B-P kemudian mengajak 20 anak dan remaja untuk berkemah bersamanya di Pulau Brownsea, yang letaknya tak jauh dari London. Perkemahan beberapa hari yang dimulai pada 1 Agustus 1907, dijadikan uji coba B-P untuk membuat kegiatan-kegiatan menarik bagi anak-anak dan remaja.
Bukan sekadar kegiatan menarik, tetapi juga kegiatan yang mengandung unsur pendidikan. Berkemah di alam terbuka, pada malam hari berkumpul di sekeliling api unggun, mengajarkan anak-anak dan remaja tentang kebesaran Tuhan dan keindahan alam semesta. Sedangkan pagi dan siang hari berpetualang keliling pulau, melatih kesegaran jasmani anak-anak.
Dari perkemahan itu, B-P kemudian menulis dalam serial yang terdiri dari enam seri, berjudul Scouting for Boys pada 1908. Buku itu laris di pasaran dan tersebar ke seluruh dunia, bersamaan dengan lahir dan berkembangnya juga gerakan kepanduan di banyak negara. Termasuk ke Indonesia, yang masuk pada 1912 ketika masih bernama Hindia-Belanda, dan saat ini diwadahi dalam Gerakan Pramuka.
Ketika memulai gerakan itu, B-P memang mengkhususkan pada anak dan remaja laki-laki. Inilah yang menyebabkan tudingan bahwa B-P senang anak dan remaja laki-laki secara seksual. Padahal ketika itu, bahkan di Inggris pun, masih sangat tradisional. Laki-laki dan perempuan seyogyanya tidak tergabung dalam satu organisasi. Masing-masing punya organisasi sendiri yang dipimpin oleh sesama jenis kelamin.
Walau pun akhirnya anak dan remaja perempuan masuk menjadi anggota gerakan kepanduan, ketika pada suatu upacara 1909, B-P melihat kehadiran barisan remaja perempuan dalam upacara gerakan kepanduan yang dipimpinnya. Jadilah B-P merestui kehadiran perempuan dan menyerahkan pimpinan kepada adiknya, Agnes, dan kemudian setelah menikah, B-P menyerahkan organisasi kepanduan putri kepada istrinya, Olave Soames.
Jadi tidak benar kalau dikatakan B-P seorang gay, apalagi “predator” anak dan remaja laki-laki. Bahkan, B-P selalu menekankan pentingnya menjalankan kewajiban terhadap Tuhan, sehingga setelah dunia semakin maju dan muncul gerakan LGBT yang meluas pada tahun 2000-an, gerakan kepanduan dianggap sering menolak kehadiran seorang yang mempunyai preferensi LGBT untuk menjadi anggotanya. (Kak Bertold)





No comments

Powered by Blogger.